Tampilkan postingan dengan label Gitaris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gitaris. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Oktober 2012

Dave Mustaine


     Dave Mustaine adalah salah satu gitaris Metal yang kreatif dan inovatif dalam menciptakan teknik gitar. Bersama Megadeth, pada tahun 2004 majalah Guitar World menempatkannya pada urutan ke-19 dalam daftar gitaris terhebat sepanjang masa.

     Dave Mustaine lahir di La Mesa, California, dari pasangan Emily dan John Mustaine. Ibunya adalah seorang Yahudi, namun Mustaine beragama Yehuwa. Pada usia 15 tahun, Dave menyewakan apartemennya sendiri dan berjuang mempertahankan hidup dengan menjual obat-obatan terlarang. Salah satu kliennya yang bernama Willow bekerja di toko kaset namun selalu kesulitan mendapatkan uang. Untuk membeli narkoba dari Dave, Willow sering menukarnya dengan album-album Iron Maiden,  AC/DC,  Judas Priest, Motorhead, dll. Hal ini adalah salah satu yang mempengaruhinya untuk menyukai musik Heavy Metal.


PANIC (1980)
     Dave Mustaine mulai mempelajari dan memainkan gitar saat ia bergabung dengan band pertamanya, Panic. Para personilnya antara lain ; Mike Leftwych (drum), Bob Evans (bass), Tom Quecke (gitar), Pat Voeks (vocal) dan Dave Mustaine (lead gitar). Band ini tidak bertahan lama karena Mike Leftwych dan salah seorang kru tewas saat kecelakaan setelah pertunjukan pertama mereka.

METALLICA (1981-1983)
     Drumer Metallica, Lars Ulrich, menyebarkan poster di sebuah Koran lokal, The Recycler, untuk mencari seorang gitaris. Pada tahun 1981, Dave meninggalkan Panic dan bergabung dengan Metallica sebagai lead gitar. Saat diwawancara untuk bergabung dengan Metallica oleh James Hetfield dan Lars Ulrich, Dave pernah bercerita :

     “ Aku berada di ruangan yang panas, jadi aku keluar dan bertanya ‘Aku akan mengikuti audisi atau apa?’. Mereka menjawab ‘bukan, kau telah berhasil’. Aku tidak percaya bahwa ini sangat mudah, lalu kami merayakannya dengan beberapa kaleng bir.”

     Mustaine bergabung dengan Metallica kurang dari 2 tahun. Hal ini dikarenakan ketergantungannya kepada obat-obatan dan minuman keras yang mempengaruhi kemampuan dan kepribadiannya sehingga para personil Metallica sepakat untuk memecatnya.

     Pada suatu ketika, Dave pernah membawa anjingnya saat latihan bersama Metallica. Tiba-tiba anjingnya melompat ke arah mobil basis Metallica saat itu, Ron McGovney, sehingga mengakibatkan body mobilnya tergores. James Hetfield kemudian berteriak dan menendang anjing itu dengan marah. Secara reflek, Dave Mustaine membalasnya dengan  menyerang Hetfield dan McGovney. Mustaine sangat marah dengan kejadian itu, namun keesokan harinya ia lah yang meminta maaf kepada personil band yang lain.

Dave Mustaine (paling kanan) bersama Metallica
     Tidak lama kemudian, Mustaine kembali terlibat masalah. Suatu ketika Mustaine sedang mabuk alkohol. Mulutnya penuh dengan busa minuman keras dan sesekali memuntahkannya. Saat itu, ia mencoba memainkan bass milik McGovney. Karena beberapa kali terkena muntahan air liur dan cairan alkohol dari Mustaine, pick-up bass McGovney akhirnya basah dan berbau tak sedap. Saat McGovney mencoba memainkan bassnya, ia tersengat listrik. Ia sangat marah dan meneriaki Mustaine untuk segera keluar dari rumahnya. Setelah kejadian itu, McGovney keluar dari Metallica.

     Pada 11 April 1983, Metallica kembali dari New York setelah merekam album debut mereka. Di tengah perjalanan, Mustaine meminum alkohol terlalu banyak dan tiba-tiba marah-marah dan berkelakuan aneh. Ia mencoba menyerang setiap orang yang ada di dekatnya, termasuk Hetfield dan Ulrich. Karena kejadian ini, peralatan musik Dave dikeluarkan dari bus dan dipaketkan ke rumahnya. Dave Mustaine sendiri diturunkan di terminal bus. Saat di terminal bus, Mustaine mendapat inspirasi untuk menciptakan lirik yang nantinya akan menjadi bagian lirik lagu “Set The World Afire” di album Megadeth tahun 1988, So Far, So Good… So What !

     Selama ia bergabung dengan Metallica, ia sempat menjalani tur. Ia juga menulis 4 lagu untuk Metallica di album Kill ‘Em All dan 2 lagu di album Ride The Ligthning. Oleh para fansnya, Mustaine juga dianggap memiliki peranan dalam pembuatan lagu "Master Of Puppets".

FALLEN ANGELS (1983)
     “Kami kehilangan chemistry, energi, semangat, atau apapun namanya. Hal ini membuat kami semua terlihat seperti anak-anak. Walaupun demikian, persahabatan kami tetap bertahan”.
(kata-kata Dave Mustaine menanggapi pendapatnya soal band Fallen Angels) 

     Fallen Angel adalah band berumur pendek yang dibentuk  Dave Mustaine setelah ia hengkang dari Metallica. Pada bulan April 1983, ia kembali ke California untuk tinggal bersama dengan ibunya. Di California, ia bekerja sebagai telemarketing. Setelah ia memiliki cukup uang untuk membeli apartemen di Hollywood, ia keluar dari pekerjaannya. Ia merekrut teman-teman kerja di tempatnya untuk membentuk band ini, Mc Kinney (gitar) dan Kisselstien (bass).


MEGADETH (1983-sekarang)
     Setelah band Fallen Angels bubar, Dave Mustaine mencoba kembali membentuk band yang ia beri nama Megadeth. Pertama-tama ia menyeleksi beberapa vokalis untuk band barunya. Audisi ini tak pernah sukses karena ia tidak pernah menemukan karakter vokal yang diinginkannya. Akhirnya ia mencoba merekam beberapa lagu dengan suaranya sendiri sambil bermain gitar. 

     Mereka merekam 3 buah lagu bersama drummer Lee Raush (Sebelumnya Dave Mustaine menempatkan Carruthers sebagai drummer. Carruthers adalah seorang kulit hitam, namun ia mengingkarinya dengan mengklaim bahwa ia adalah keturunan Spanyol, bukan Afrika. Setelah diketahui asal-usul Carruthers yang sebenarnya, ia dikeluarkan karena kebohongan dan sifat rasisnya).

     Lee Raush tidak bertahan lama. Posisinya digantikan oleh Kerry King dan sempat mengikuti beberapa pertunjukan bersama Megadeth. Kerry King hanya bertahan kurang dari satu minggu karena ia lebih memilih melanjutkan bandnya sebelum bergabung dengan Megadeth, Slayer.
Kerry King
      Akhirnya, seorang drummer dengan gaya permainan Jazz bergabung dengan Megadeth, ia adalah Gar Samuelson. Megadeth merekam 3 buah demo lagu dengan 3 orang personil. Mereka adalah Dave Mustaine sendiri pada gitar, Chris Poland pada bass dan gitar dan Samuelson pada drum. Setelah merekam demonya ini, akhirnya pada bulan November Megadeth menandatangani kontrak dengan Combat Records dan mengadakan tur.

     Pada bulan Mei 1985, Megadeth merilis album pertama mereka, Killing Is My Bussiness… And Bussiness Is Good. Pada saat itu, mereka mengadakan tur keliling Amerika dan Kanada bersama dengan Exciter sebagai gitaris menggantikan Chris Poland untuk sementara yang sedang mengalami ketergantungan heroin. 

     Pada bulan Oktober, Poland kembali bergabung dengan Megadeth dan mengikuti proses rekaman album kedua. 

     Pada Januari 1986, Megadeth sempat tampil bersama dengan Exodus dan Metal Church. Pada tahun-tahun itu, Metallica dan Megadeth berhasil menjadi band Metal yang paling disegani dan dihormati sampai dengan tahun 1991.

     Setelah debut album Killing Is My Bussiness, Mustaine mencoba membuat gitar custom-nya dengan pabrikan gitar Jackson. Jackson berhasil memodifikasi gitar Mustaine dengan menambahkan 2 fret dari standar fret gitar normal (22 fret) dan diberi nama Jackson King V. Pada tahun 200-an, gitar ini mengalami modifikasi lagi dengan ditambahkannya pick up Symour Duncan SH-4.

Gitar Jackson King V
      Di tahun yang sama, label Capitol Records bekerjasama dengan Megadeth untuk mendapatkan hak merilis album keduanya, Peace Sells… But Who’s Buying?. Album ini dirilis pada bulan November dan segera menjadi album favorit untuk genre Metal pada saat itu. Sayangnya pada tahun 1987, Dave Mustaine bertengkar dengan Poland dan Samuelson dan memecat mereka.

     Chuck Behler, teknisi drum Samuelson, menggantikan posisinya dan posisi Poland pada gitar digantikan oleh Jeff Young. Dengan formasi ini, Megadeth merilis album ketiganya, So Far, So Good… So What!. Pada album ini, Dave Mustaine menciptakan sebuah lagu untuk mengenang kematian pemain bass Metallica, Cliff Burton,  yang tewas saat menjalani tur. Lagu itu adalah “In My Darkest Hour”.

Cliff Burton
      Tidak lama kemudian, Mustaine kembali bertengkar dengan para personil yang lain dan membuatnya harus kembali mencari personil pengganti. Instruktur drum Chuck Behler, Nick Menza, bergabung dengan Megadeth pada tahun 1989. Di tahun ini Megadeth hanya menghasilkan satu buah lagu cover version dari Alice Cooper, “No More Mr. Nice Guys”. Lagu ini menjadi soundtrack dari film horror Shocker. 

     Pada tahun 1990, gitaris Cacophony, Marty Friedman, bergabung dengan Megadeth setelah mengikuti audisi. Pada tahun ini juga, Megadeth menjalani tur Clash Of the Titans bersama Slayer, Suicidal Tendensias dan Testament. Tur ini berlangsung sebulan sebelum Megadeth merilis album Rust In Peace (1990) yang sukses di pasaran.

Marty Friedman
 Peralatan
     Dave Mustaine lebih sering menggunakan gitar B.C Rich selama karirnya (baik bersama Megadeth ataupun Metallica). Selain itu, ia juga menggunakan gitar Jackson dan ESP yang dihubungkan ke ampli Marshall.

     Untuk efek, Dave Mustaine menggunakan beberapa efek ini ; Rocktron All Access Controller, Furman PL Plus Power Conditioner, Mogami Cables, Whirlwind MultiSelector, Shure UHF-R Wireless Guitar System dan Ebtech Hum Eliminator.

Senin, 17 September 2012

Roy Ramirez


     Anda menyukai petikan gitar di lagu ' Tears Of The Dragon'? itu bukanlah hasil karya Dave Murray atau Adrian Smith, tapi itu adalah permainan gitar dari Roy Zerimar. Ya, itu adalah salah satu petikan gitarnya yang mengantarkan lagu tersebut dikenal luas khususnya di kalangan pecinta musik rock.

     Pria kelahiran Februari 1968 di Los Angeles, CA ini awalnya dikenal sebagai gitaris band Tribe Of Gypsies di tahun 1991. Nama aslinya adalah Roy Ramirez dikarenakan alasan etnis Roy mengubah nama Ramirez menjadi Zerimar (kebalikan dari Ramirez) yang kemudian lebih dikenal lagi dengan panggilan Roy Z. Sebelum membentuk bandnya itu Roy Z juga sempat bermain di band lain seperti Seventh Thunder, Gypsy Moreno, Royal Flush, Driver, Warrior, dan juga bersama mantan vokalis Loudness, Mike Vescera.

     Namanya meroket setelah ia digamit vokalis Iron Maiden, Bruce Dicknson saat Bruce pisah dari Iron Maiden, saat tu Bruce digantikan oleh Blaze Bailey, vokalis Wolfsbane.


     Bersama Bruce, ia yang juga bersama teman bandnya, Dave Ingraham (drums) dan Eddie Casillas (bass) ikut melengkapi album solonya itu. Dengan menambahkan sentuhan musik latin, ia menambah album tersebut terasa benar-benar solo album Bruce yang bsa lepas dari bayang-bayang Iron Maiden yang memebesarkanya. Dimana vokal di album Ball's To Picasso (1993) sangat dinamis. Dengan lagu andalanya 'Tears Of The Dragon' album solonya itu mendapatkan pujian dari media. Di tahun 1997 kembali Bruce mengajak Roy mengisi musiknya di album Accident O Birth, hasilnya mendapatkan kesuksesan dan pujian dan mendapatkan winning "album of the year" lewat polling di media musik metal.

     Ditahun 2000, Rob Halford yang dikenal sebagai mantan fokalis Judas Priest dan Fight, tergiur juga melihat kinerja Roy Z. Maka digaraplah solonya, album Ressurection. Di album itu Roy dipercaya memproduseri dan segala proses penggarapan musik di album tersebut.

     Setelah itu tercata solois dan band lainpun meminta Roy Z untuk mendukung album mereka. Tercatat nama Rob Rock, Glen Hughes, WASP, Helloween (the Dark Ride), Yngwie Malmsteen (perpetual flame), Judas Priest (Angel Of Retribution), Andre Matos (Time To Be free), Sebastian Bach (Angel Down) hingga Sepultura (Kairos).

Asep Stone - Gitaris Bandung Yang Terkenal di Swiss


     Namanya sederhana saja, tapi dibalik nama yang sederhana tersebut tersimpan suatu muatan talenta yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang mempunyai nama yang mentereng, ya, Asep Stone namanya. Ia lahir di Bandung pada tanggal 22 Maret 1969 di Indonesia. Dia menemukan bakat bermain gitarnya secara alami dan belajar sendiri untuk bermain dalam berbagai macam gaya. 

     Dia melakukan debut pertama pada usia 14 tahun di Festival Gladiator Rock Bandung dengan penonton hampir 20.000 orang. Ia bermain secara ekstensif diberbagai tempat di Indonesia dan pindah ke Inggris pada tahun 1993. Pada tahun 1999 dibentuk Asep Purple Haze, yang muncul pada Sessions BBC dan bermain dengan mantan pemain bass Jimi Hendrix, Noel Redding pada lelang gitar Jimi Hendrix. Noel sangat ingin bermain dengan Asep lagi, tapi sayangnya Noel meninggal tak lama setelah pertemuan mereka. Purple Haze mengadakan tour keliling Inggris, namun berpisah pada tahun 2004.

     Asep mengaku selain dipengaruhi oleh Jimi hendrix juga oleh beberapa musisi antara lain Muddy Waters, BB King, T-Bone Walker, Johnny Winter dll.

Asep Stone saat bergaya dan berpenampilan seperti Jimi Hendrix
     Pada tahun 2007 Asep pindah ke Swiss dan ia membentuk grup band yang diberi nama Asep Stone & The Experience. Asep dkk. bermain di beberapa pertunjukan di seluruh tempat di Swiss. Band ini beranggotakan Asep Stone – Guitar & Vocals; Ivo Bucher/Marcel Ricklin, – Bass; Lukas Meier – Drums. Untuk bisa melihat aksi kang Asep memainkan lagu-lagu karya Jimi Hendrix, bisa disimak di Youtube. Lagu yang bisa disimak seperti Manic Depression, Purple Haze, Foxy Lady, Hey Joe, Red House dsb.

     Kabarnya sampai saat ini Asep Stone masih tinggal di Swiss bersama teman-teman bandnya. Asep Stone disebut-sebut sebagai tribute nya sang legenda Jimi Hendrix karena dari segi penampilan mereka mirip dan aksi panggungnya pun menyerupai Jimi Hendrix. Asep Stone satu-satunya orang yang menjadi tribute dari Jimi Hendrix sampai saat ini. Berita terakhir pada tanggal 20 April jam 20:30 waktu setempat mereka akan tampil di Uhr Tschuppi's Wonderbar, Burgerstrasse 21, CH-6003 di kota Luzern, Swiss dan tanggal 28 Juni 2012 direncanakan akan menggelar konser di Festsaal Kreuzberg, di kota Berlin.

Rabu, 29 Agustus 2012

Dewa Budjana

     Dewa Budjana atau (I Dewa Gede Budjana; lahir di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 30 Agustus 1963) biasa dipanggil dengan Budjana adalah anggota grup musik Gigi.
     Ketertarikan dan bakat Dewa Budjana pada musik, khususnya gitar sudah sangat dominan, terlihat sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar di Klungkung Bali. Sampai-sampai, Budjana kecil pernah mencuri uang neneknya untuk sekedar memenuhi keinginannya membeli gitar pertamanya seharga 10.000 rupiah.
Sejak memiliki gitar pertama inilah yang membuat Budjana tidak lagi memiliki semangat untuk bersekolah, baginya gitar adalah nomor 1. Pada saat itu Budjana mempelajari sendiri teknik bermain gitar, dan dia mampu dengan cepat mahir mempelajari lagu Deddy Dores berjudul "Hilangnya Seorang Gadis" dan lagunya The Rollies berjudul "Setangkai Bunga", itupun disaat ia sama sekali belum tersentuh literatur-literatur musik(gitar) yang formal.

     Budjana menjadi lebih bergairah dalam hal bermusik terlihat ketika dia pindah ke Surabaya, Jawa Timur di mana ia mengambil kursus musik klasik dan bergabung dengan sebuah band yang banyak berpartisipasi dalam pertunjukan musik. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas Budjana memutuskan hijrah ke Jakarta untuk mengejar mimpinya berkarir sebagai musisi profesional.
  
Surabaya ke Jakarta

     Pada tahun 1976 ketika menginjak usianya yang ke-13, nama Budjana mulai terdengar di dunia musik di Surabaya. Kemudian, pada tahun 1981 dia membeli sebuah gitar listrik ( Aria Pro II) dan mulai bermain musik dengan banyak orang yang berbeda. Perlahan-lahan gaya musiknya mulai berubah dari rock, pop ke jazz. Saat itu ia mulai terpengaruh oleh John McLaughlin dari Mahavishnu Orchestra, Chick Corea, Gentle Giant, Kansas, Tangerine Dream, American Garage, Pat Metheny dan Allan Holdsworth.

      Pada tahun 1980 Budjana mulai bergabung bersama Squirrel, band jazz pertama di sekolahnya di Surabaya. Squirrel sering ikut berpartisipasi dalam sejumlah acara musik nasional, termasuk Light Music Contest pada tahun 1984 di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Meskipun banyak kontestan turut serta dalam ajang lomba tersebut namun Budjana sanggup mengungguli kompetisi tersebut dan terpilih menjadi pemain gitar terbaik. Satu tahun setelah itu, Budjana memutuskan untuk terbang ke Jakarta untuk mengembangkan karir musiknya. Perjalanan ini membawanya ke Jack Lesmana sebuah legenda jazz Indonesia, yang memperkenalkannya kepada musisi profesional lainnya. Dari beliau Budjana banyak mengenal dan mendapatkan pengetahuan mengenai filosofi-filosofi dalam bermain jazz, termasuk tentu saja bermain standard jazz dengan lebih baik.

(1985-1993): Setelah di Jakarta

      Meskipun Jack Lesmana memberikan Budjana banyak kesempatan dan peluang dalam karir bermusik di Indonesia namun Indralah yang pertama kali membujuknya untuk menjadi seorang session player. Setelah menjalani hidup di Jakarta Budjana akhirnya mulai beradaptasi dan banyak bergaul dengan musisi-musisi lokal yang baru ia kenal, bermain musik di kafe juga salah satu kegiatan rutinnya. Beruntung tidak berapa lama setelah itu Budjana mulai banyak mendapatkan tawaran untuk mengisi rekaman-rekaman kaset seperti pada album solo Indra Lesmana, Catatan si Boy II, Andre Hehanussa, Heidy Yunus, Memes, Chrisye, Mayangsari, Dewi Gita, Desy Ratnasari, Potret, Trakebah, Caesar (Deddy Dores), Nike Ardila dan lain-lain.

      Beberapa tahun kemudian Budjana bergabung dengan Spirit band dan sempat merilis dua album bersama grup musik tersebut, yang pertama berjudul "Spirit"dan yang ke dua berjudul "Mentari". Beberapa tahun setelah itu Budjana memutuskan untuk keluar dari Spirit band dan bergabung dengan Java Jazz (Indra Lesmana). Ia juga sempat bermain dengan banyak band seperti Jimmy Manopo Band, Erwin Gutawa Orkestra, Elfa's Big Band dan Twilite Orchestra.

      Di antara tahun 1989 - 1993 Budjana juga pernah membantu Indra Lesmana untuk mengajar di sekolah miliknya. Di sela-sela waktu mengajar itu kadang sering dipergunakan oleh Budjana untuk berlatih gitar secara trio atau jam session dengan siapapun di sekolah tersebut. Pada tahun 1993 Budjana bergabung dengan Indra Lesmana "Java Jazz" bersama Cendy Luntungan (drum) dan Jefrey Tahalele (bass akustik) dan sempat merilis satu album berjudul "Moon in Asia" atau "Bulan di Asia" dengan genre jazz yang agak progressive dicampur dengan sentuhan musik New Age. Bersama Java Jazz Budjana juga sering ikut berpartisipasi dalam banyak festival Jazz seperti North Sea Jazz Festival, World Jazz Convention di Den Haag, Belanda, Jak Jazz, Java Jazz festival dan banyak lagi

(1994-kini): Bersama Gigi

     Hingga saat ini Dewa Budjana masih bersama Gigi, band yang dibentuknya pada tahun 1994 bersama Baron (gitar), Thomas (bass), Armand Maulana (vokal) dan Ronald (drum). Sebelumnya pada tahun 1992 Budjana pernah menyampaikan keinginannya untuk membentuk grup musik dengan dua pemain gitar. Keinginannya tersebut baru terwujud dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1994. Dia membentuk band dengan formasi dua gitaris, berpasangan dengan Baron. Band itulah yang sekarang dikenal dengan nama GIGI. Awalnya perjalalanan Gigi terhitung cukup mulus, di albumnya yang ke dua yaitu "Dunia" Gigi sanggup mencentak penjualan yang cukup fantastis yaitu 400 ribu copy. Namun sayangnya setelah album tersebut Gigi harus rela kehilangan Baron. Kemudian setelah itu bongkar pasang personilpun tak terhindarkan lagi. Namun setelah hadirnya Hendy di album Next Chapter pada tahun 2006 Gigi terlihat mulai stabil kembali.

Gigi
     Bersamaan dengan Gigi di album yang ke enam, Budjana mencoba meneruskan cita-citanya yang dulu yaitu membuat album solo jazz. Sejak saat itu Budjana telah merilis sebanyak 4 album solo yang berjudul : Nusa Damai, Gitarku, Samsara dan Home. Home adalah sebuah album penghormatan kepada korban bencana tsunami yang terjadi pada bulan Desember tahun 2004. Di album "Samsara" , Budjana juga mulai melibatkan musisi luar seperti Peter Erskine (pemain drum dari grup musik Weather Report). Pada bulan Desember tahun 2007. Budjana menggelar konser solonya untuk yang pertama kali dengan tema "Gitarku, "Hidupku"; "Kekasihku". Ditemani antara lain oleh : Adi Darmawan (bass), Sandy Winarta (Drum), Irsa Destiwi (Keyboard), Jalu D. Pratidina (Kendang) dan Saat pada (suling). Kemudian pada tahun 2010 Budjana menggelar lagi konser tunggalnya untuk yang ke dua kalinya dengan dibantu musisi-musisi antara lain : Sandy Winarta (drum), Shadu Shah Chaidar (bass), Irsa Destiwi (piano), Dandy Lasahido (keyboards), Saat (suling) dan Jalu Pratidina pada (perkusi).

      Menurut pengamat musik Denny Sakrie gitar bagi Budjana adalah belahan jiwa bahkan gitar adalah refleksi sebuah harga diri atau kehormatan. Budjana dan gitarnya adalah sebuah senyawa yang tak terpisahkan. Ini diperlihatkan ketika menggelar konser tunggalnya di Gedung Kesenian Jakarta yang dibarengi peluncuran buku Gitarku, Hidupku, Kekasihku. Kekuatan utama Budjana terletak pada serpihan komposisi yang kuat dan selalu menyusupkan tema tertentu serta menyusupkan roh yang kuat pula dalam pola permainan gitarnya. Kekaguman dan luapan rasa cinta Budjana terhadap sosok wanita juga sangat terasa dalam beberapa komposisi karyanya. Pada saat itu Budjana menggunakan 8 gitar kesayangannya, termasuk gitar Parker Fly yang diberinya nama Saraswati.

Trisum - Budjana, Balawan dan Tohpati
 Trisum

      Trisum awalnya terbentuk pada tahun 2004 dimana Budjana, Tohpati dan Balawan tampil sepanggung dalam sebuah acara peluncuran produk. Setahun kemudian mereka bertiga tampil di pagelaran Java Jazz Festival dan ternyata mendapat sambutan yang sangat baik dari penonton. Mereka kembali tampil sepanggung dalam konser bertajuk Dialog Tiga Gitar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada akhir tahun 2005. Di konser inilah kiprah tiga gitaris handal ini semakin dikenal luas oleh publik, dimana selanjutnya mereka pun roadshow ke berbagai kota di Indonesia